Sabtu, 07 Juni 2008

Indonesia Kalah Cepat Patenkan Batik

Indonesia kalah cepat dengan Malaysia untuk mematenkan bahwa batik adalah hasil warisan budaya yang asli Indonesia. Siapa cepat, dia dapat. Itulah yang digunakan Malaysia untuk mengakui bahwa batik merupakan budayanya.

Demikian disampaikan Staf Ahli Menko Kesra bidang Ekonomi Kerakyatan dan Informasi, Komet Mangiri dalam Konfrensi Pers Ekonomi Kerakyatan dalam Pekan Produk Budaya indonesia (PPBI) 2008 di Jakarta Convention Center, Kamis (5/6).

“Kita harus menunjukkan dengan nyata pada masyarakat luas, bahwa kualitas batik kita jauh lebih bagus dari Malaysia” ujar Komet.

Komet menambahkan, dengan digelarnya PPBI 2008 ini semakin menunjukkan pada masyarakat bahwa kain batik produksi Indonesia jauh lebih berkualitas. “Tahun lalu sebenarnya kita akan membawa sejumlah warisan budaya Indonesia termasuk batik untuk dipamerkan di Perancis, tapi gagal karena gedung-gedung pameran disana sudah penuh disewa 2 tahun mendatang” ujarnya.

“Rencana ke depan, saya akan ajukan kepada pemerintah untuk memamerkan hasil budaya kita, paling tidak ke Australia,” tambah Komet.

Jenis batik Indonesia

* Batik tulis adalah kain yang dihias dengan teksture dan corak batik menggunakan tangan. Pembuatan batik jenis ini memakan waktu kurang lebih 2-3 bulan.
* Batik cap adalah kain yang dihias dengan teksture dan corak batik yang dibentuk dengan cap ( biasanya terbuat dari tembaga). Proses pembuatan batik jenis ini membutuhkan waktu kurang lebih 2-3 hari.

Batik Tiga Negeri
Batik Jawa Hokokai 1942-1945
Batik Buketan asal Pekalongan dengan desain pengaruh Eropa
Batik Buketan
Batik Lasem

Museum Bale Agung Kulon Progo; Dilengkapi Koleksi Cap Kain Batik

Cap kain batik dengan berbagai corak batik asli Yogyakarta akan menjadi salah satu pelengkap koleksi benda cagar budaya di Kulonprogo yang disimpan di Museum Bale Agung Pemkab Kulonprogo. Museum tersebut menurut rencana pada pertengahan September mendatang akan dibuka untuk umum.

Kepala Subdin Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disbudpar) Kulonprogo, Drs Santoso dan Kasi Sejarah dan Kepurbakalaan, Singgih Hapsoro yang ditemui KR di ruangkerjanya, Rabu (9/8) mengungkapkan di Museum Bale Agung dilengkapi cap kain batik yang ada di Yogyakarta. Cap kain batik merupakan tehnologi industri batik pasca penggunaan alat canthing.

Menurutnya peralatan tersebut diperoleh dari para perajin batik dari berbagai daerah yang sudah tidak dipergunakan lagi. Karena pertimbangan ekonomi, corak kain batik yang diproduksi tidak laku di pasaran sehingga peralatan itu tak dipakai lagi.

Cap batik tersebut, katanya memiliki nilai sejarah perbatikan di Indonesia. Terdapat 13 corak cap batik yang dikoleksi di Museum Bale Agung. Diantaranya corak batik parang curiga, parang rusak, parang rusak dan berbagai corak lainnya. “Diharapkan museum ini nantinya dapat berfungsi sebagai sarana pelestarian benda bersejarah, pengembangan dan untuk kepentingan ilmu pengetahuan,” tutur Drs Santoso.

Pertengahan bulan September 2006 nanti, jelas Singgih Hapsoro Museum Bale Agung yang terletak di Komplek Pemkab Kulonprogo dibuka setiap hari pada jam kerja untuk masyarakat umum. Pengunjung yang ingin mengetahui berbagai benda peninggalan purbakala dapat melihat langsung tanpa dipungut biaya masuk.

Menurutnya menjelang museum dibuka untuk masyarakat umum, piahknya akan mengadakan sosialisasi UU Nomor 5 tahun 1992 tentang benda cagar budaya. Dalam rangka persiapan telah mengatur ruangan, menyediakan landasan untuk benda-benda cagar budaya yang disimpan di museum dan pemasangan lampu display.

Benda cagar budaya lain yang bisa diketahui masyarakat umum berupa lingga, yoni, arca ganesa dan batu bata yang dibuat dimasa lalu. Benda cagar budaya yang dikoleksi keseluruhan jumlahnya mencapai sekitar 50-an. “Termasuk mata uang kuno nanti juga akan dikoleksi di sana,” katanya.

Setelah Museum Bale Agung dibuka untuk umum, diharapkan dalam jangka panjang disediakan bangunan gedung yang lebih luas dan representatif. Luas bangunan Bale Agung yang ada saat itu masih terlalu sempit sehingga semua benda cagar budaya belum dapat disimpan di gedung tersebut.

Batik Pekalongan Indonesia

Meskipun tidak ada catatan resmi kapan batik mulai dikenal di Pekalongan, namun menurut perkiraan batik sudah ada di Pekalongan sekitar tahun 1800. Bahkan menurut data yang tercatat di Deperindag, motif batik itu ada yang dibuat 1802, seperti motif pohon kecil berupa bahan baju.

Namun perkembangan yang signifikan diperkirakan terjadi setelah perang besar pada tahun 1825-1830 di kerajaan Mataram yang sering disebut dengan perang Diponegoro atau perang Jawa. Dengan terjadinya peperangan ini mendesak keluarga kraton serta para pengikutnya banyak yang meninggalkan daerah kerajaan. Mereka kemudian tersebar ke arah Timur dan Barat. Kemudian di daerah - daerah baru itu para keluarga dan pengikutnya mengembangkan batik.

Ke timur batik Solo dan Yogyakarta menyempurnakan corak batik yang telah ada di Mojokerto serta Tulungagung hingga menyebar ke Gresik, Surabaya dan Madura. Sedang ke arah Barat batik berkembang di Banyumas, Kebumen, Tegal, Cirebon dan Pekalongan. Dengan adanya migrasi ini, maka batik Pekalongan yang telah ada sebelumnya semakin berkembang.

Seiring berjalannya waktu, Batik Pekalongan mengalami perkembangan pesat dibandingkan dengan daerah lain. Di daerah ini batik berkembang di sekitar daerah pantai, yaitu di daerah Pekalongan kota dan daerah Buaran, Pekajangan serta Wonopringgo.

Musium batik Pekalongan
Perjumpaan masyarakat Pekalongan dengan berbagai bangsa seperti Cina, Belanda, Arab, India, Melayu dan Jepang pada zaman lampau telah mewarnai dinamika pada motif dan tata warna seni batik.

Sehubungan dengan itu beberapa jenis motif batik hasil pengaruh dari berbagai negara tersebut yang kemudian dikenal sebagai identitas batik Pekalongan. Motif itu, yaitu batik Jlamprang, diilhami dari Negeri India dan Arab. Lalu batik Encim dan Klengenan, dipengaruhi oleh peranakan Cina. Batik Belanda, batik Pagi Sore, dan batik Hokokai, tumbuh pesat sejak pendudukan Jepang.

Perkembangan budaya teknik cetak motif tutup celup dengan menggunakan malam (lilin) di atas kain yang kemudian disebut batik, memang tak bisa dilepaskan dari pengaruh negara-negara itu. Ini memperlihatkan konteks kelenturan batik dari masa ke masa.

Batik Pekalongan menjadi sangat khas karena bertopang sepenuhnya pada ratusan pengusaha kecil, bukan pada segelintir pengusaha bermodal besar. Sejak berpuluh tahun lampau hingga sekarang, sebagian besar proses produksi batik Pekalongan dikerjakan di rumah-rumah. Akibatnya, batik Pekalongan menyatu erat dengan kehidupan masyarakat Pekalongan yang kini terbagi dalam dua wilayah administratif, yakni Kotamadya Pekalongan dan Kabupaten Pekalongan.

Pasang surut perkembangan batik Pekalongan, memperlihatkan Pekalongan layak menjadi ikon bagi perkembangan batik di Nusantara. Ikon bagi karya seni yang tak pernah menyerah dengan perkembangan zaman dan selalu dinamis. Kini batik sudah menjadi nafas kehidupan sehari-hari warga Pekalongan dan merupakan salah satu produk unggulan. Hal itu disebabkan banyaknya industri yang menghasilkan produk batik. Karena terkenal dengan produk batiknya, Pekalongan dikenal sebagai KOTA BATIK. Julukan itu datang dari suatu tradisi yang cukup lama berakar di Pekalongan. Selama periode yang panjang itulah, aneka sifat, ragam kegunaan, jenis rancangan, serta mutu batik ditentukan oleh iklim dan keberadaan serat-serat setempat, faktor sejarah, perdagangan dan kesiapan masyarakatnya dalam menerima paham serta pemikiran baru.

Batik yang merupakan karya seni budaya yang dikagumi dunia, diantara ragam tradisional yang dihasilkan dengan teknologi celup rintang, tidak satu pun yang mampu hadir seindah dan sehalus batik Pekalongan.

Batik: Sejarah Batik Indonesia

Ini adalah sebuag artikel yang sebaguan besar saya kutip dari internet juga, silahkan dibaca yah ?
Batik secara historis berasal dari zaman nenek moyang yang dikenal sejak abad XVII yang ditulis dan dilukis pada daun lontar. Saat itu motif atau pola batik masih didominasi dengan bentuk binatang dan tanaman. Namun dalam sejarah perkembangannya batik mengalami perkembangan, yaitu dari corak-corak lukisan binatang dan tanaman lambat laun beralih pada motif abstrak yang menyerupai awan, relief candi, wayang beber dan sebagainya. Selanjutnya melalui penggabungan corak lukisan dengan seni dekorasi pakaian, muncul seni batik tulis seperti yang kita kenal sekarang ini.

Jenis dan corak batik tradisional tergolong amat banyak, namun corak dan variasinya sesuai dengan filosofi dan budaya masing-masing daerah yang amat beragam. Khasanah budaya Bangsa Indonesia yang demikian kaya telah mendorong lahirnya berbagai corak dan jenis batik tradisioanal dengan ciri kekhususannya sendiri.


Perkembangan Batik di Indonesia
Sejarah pembatikan di Indonesia berkaitan dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan kerajaan sesudahnya. Dalam beberapa catatan, pengembangan batik banyak dilakukan pada masa-masa kerajaan Mataram, kemudian pada masa kerajaan Solo dan Yogyakarta.

Kesenian batik merupakan kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluarga raja-raja Indonesia zaman dulu. Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas dalam kraton saja dan hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga serta para pengikutnya. Oleh karena banyak dari pengikut raja yang tinggal diluar kraton, maka kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar kraton dan dikerjakan ditempatnya masing-masing.

Proses pembuatan batik
Dalam perkembangannya lambat laun kesenian batik ini ditiru oleh rakyat terdekat dan selanjutnya meluas menjadi pekerjaan kaum wanita dalam rumah tangganya untuk mengisi waktu senggang. Selanjutnya, batik yang tadinya hanya pakaian keluarga istana, kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari, baik wanita maupun pria.

Bahan kain putih yang dipergunakan waktu itu adalah hasil tenunan sendiri. Sedang bahan-bahan pewarna yang dipakai terdiri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang dibuat sendiri antara lain dari : pohon mengkudu, tinggi, soga, nila, dan bahan sodanya dibuat dari soda abu, serta garamnya dibuat dari tanah lumpur.

Jadi kerajinan batik ini di Indonesia telah dikenal sejak zaman kerajaan Majapahit dan terus berkembang hingga kerajaan berikutnya. Adapun mulai meluasnya kesenian batik ini menjadi milik rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa ialah setelah akhir abad ke-XVIII atau awal abad ke-XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad ke-XX dan batik cap dikenal baru setelah usai perang dunia kesatu atau sekitar tahun 1920. Kini batik sudah menjadi bagian pakaian tradisional Indonesia.