Cap kain batik dengan berbagai corak batik asli Yogyakarta akan menjadi salah satu pelengkap koleksi benda cagar budaya di Kulonprogo yang disimpan di Museum Bale Agung Pemkab Kulonprogo. Museum tersebut menurut rencana pada pertengahan September mendatang akan dibuka untuk umum.
Kepala Subdin Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disbudpar) Kulonprogo, Drs Santoso dan Kasi Sejarah dan Kepurbakalaan, Singgih Hapsoro yang ditemui KR di ruangkerjanya, Rabu (9/8) mengungkapkan di Museum Bale Agung dilengkapi cap kain batik yang ada di Yogyakarta. Cap kain batik merupakan tehnologi industri batik pasca penggunaan alat canthing.
Menurutnya peralatan tersebut diperoleh dari para perajin batik dari berbagai daerah yang sudah tidak dipergunakan lagi. Karena pertimbangan ekonomi, corak kain batik yang diproduksi tidak laku di pasaran sehingga peralatan itu tak dipakai lagi.
Cap batik tersebut, katanya memiliki nilai sejarah perbatikan di Indonesia. Terdapat 13 corak cap batik yang dikoleksi di Museum Bale Agung. Diantaranya corak batik parang curiga, parang rusak, parang rusak dan berbagai corak lainnya. “Diharapkan museum ini nantinya dapat berfungsi sebagai sarana pelestarian benda bersejarah, pengembangan dan untuk kepentingan ilmu pengetahuan,” tutur Drs Santoso.
Pertengahan bulan September 2006 nanti, jelas Singgih Hapsoro Museum Bale Agung yang terletak di Komplek Pemkab Kulonprogo dibuka setiap hari pada jam kerja untuk masyarakat umum. Pengunjung yang ingin mengetahui berbagai benda peninggalan purbakala dapat melihat langsung tanpa dipungut biaya masuk.
Menurutnya menjelang museum dibuka untuk masyarakat umum, piahknya akan mengadakan sosialisasi UU Nomor 5 tahun 1992 tentang benda cagar budaya. Dalam rangka persiapan telah mengatur ruangan, menyediakan landasan untuk benda-benda cagar budaya yang disimpan di museum dan pemasangan lampu display.
Benda cagar budaya lain yang bisa diketahui masyarakat umum berupa lingga, yoni, arca ganesa dan batu bata yang dibuat dimasa lalu. Benda cagar budaya yang dikoleksi keseluruhan jumlahnya mencapai sekitar 50-an. “Termasuk mata uang kuno nanti juga akan dikoleksi di sana,” katanya.
Setelah Museum Bale Agung dibuka untuk umum, diharapkan dalam jangka panjang disediakan bangunan gedung yang lebih luas dan representatif. Luas bangunan Bale Agung yang ada saat itu masih terlalu sempit sehingga semua benda cagar budaya belum dapat disimpan di gedung tersebut.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar